BERANDA / SERBA SERBI / Pengertian dan Jenis Stelsel Pajak, Cekidot !!

Pengertian dan Jenis Stelsel Pajak, Cekidot !!

Jenis – Jenis Stelsel Pajak

Stelsel Pajak Pajak yang kita bayarkan, tidak serta merta kita bayarkan begitu saja. Pajak yang kita bayarkan kepada ke kas negara harus taat asas dan berdasarkan ketentuan. Karena apabila kita membayar pajak sesuka hati kita, akan berpotensi menimbulkan masalah.

Masalah yang mungkin timbul, yaitu pajak yang disetorkan kurang (kurang bayar), pajak yang kita bayarkan lebih dari yang seharusnya (lebih bayar) sehingga wajib pajak minta uang pajaknya untuk dikembalikan (restitusi), pajak yang dibayarkan salah sehingga harus dipindahbukukan (pbk), atau pajak yang dibayarkan tidak tepat waktu (telat bayar pajak) sehingga dikenakan denda.

 

 

Pengertian dan Jenis Stelsel Pajak
sumber photo : google.com

 

 

Untuk itu, ada baiknya sebelum bayar pajak sobat sebagai Wajib Pajak yang taat bayar pajak harus paham tentang stelsel pajak. Stelsel Pajak adalah suatu sistem yang digunakan untuk memperhitungkan  pajak yang harus kita bayarkan. Terdapat 3 jenis stelsel pajak.

 

Stelsel Nyata (Riel Stelsel)

Stelsel Pajak Nyata (Riel Stelsel) yaitu cara memperhitungkan besarnya pajak terhutang berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Pajak terhutang baru bisa diketahui setelah akhir suatu periode pajak (akhir tahun pajak) dimana penghasilan sesusungguhnya dalam satu tahun pajak sudah benar-benar dapat dipastikan.

Keunggulan dari pemungutan pajak menggunakan stelsel pajak nyata adalah, besarnya pajak yang dikenakan lebih akurat karena dikenakan atas penghasilan yang benar-benar sudah diperoleh. Kelemahan menggunakan stelsel ini adalah, pemungutan pajak baru bisa dilakukan di akhir periode atau awal tahun pajak berikutnya sehingga membutuhkan waktu tunggu yang sangat lama.

 

Stelsel Anggapan (Fictieve stelsel)

Stelsel Pajak Anggapan (Fictieve stelsel) yaitu, pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan. Misalnya untuk menentukan besarnya pajak tahun berjalan yang harus dibayarkan, wajib pajak menggunakan dasar pengenaan pajak tahun sebelumnya. Dimana, penghasilan tahun berjalan dianggap sama dengan penghasilan tahun sebelumnya.

Kelebihan menggunakan stelsel pajak anggapan (fictieve stelsel) adalah, pajak dapat lebih cepat dipungut, karena besarnya pajak yang harus dibayarkan langsung dapat ditentukan di awal tahun berjalan. Sementara kekurangannya adalah, besarnya pajak yang dipungut belum tentu sesuai dengan yang seharusnya terhutang karena tidak berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Pajak yang dibayarkan bisa saja kurang bayar atau bisa jadi lebih bayar.

 

Stelsel Campuran

Stelsel Pajak Campuran  yaitu dalam memperhitungkan pajak yang terhutang, wajib pajak menggabungkan dua jenis  stelsel yaitu stelsel nyata dan stelsel anggapan (stelsel fiktif). Di awal tahun, untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar pada tahun berjalan, wajib pajak menghitung pajaknya dengan menggunakan dasar pengenaan pajak tahun sebelumnya. Jadi, penghasilan tahun berjalan dianggap seolah-olah sama dengan penghasilan tahun sebelumnya.

Pada akhir tahun pajak, pajak yang terhutang dihitung kembali menggunakan dasar pengenaan pajak yang bersumber dari penghasilan yang benar-benar diperoleh pada tahun tersebut (stelsel nyata) dan dengan memperhitungkan pajak yang telah dibayar selama tahun berjalan dengan menggunakan stelsel anggapan (stelsel anggapan).

Keunggulan menggunakan stelsel pajak campuran adalah, uang pajak bisa lebih cepat dipungut oleh negara dan pajak terhutang yang dibayarkan lebih akurat. Kelemahannya, wajib pajak harus dua kali melakukan perhitungan dan apabila tidak teliti dapat menyebabkan kesalahan hitung pajak terhutang di akhir tahun pajak (PPh Pasal 29).

Sistem perpajakan di Indonesia umumnya menggunakan sistem Stelsel Pajak Campuran. Dimana wajib pajak melakukan pembayaran pajak setiap bulan baik yang dibayarkan sediri (PPh Pasal 25)  maupun yang dipotong (PPh Pasal 21, PPh Pasal 23) atau dipungut (PPN, PPh Pasal 22), kemudian wajib pajak tersebut bisa mengkreditkan pajak yang telah dibayar di SPT Tahunan untuk menghitung besarnya pajak yang terhutang di akhir tahun pajak (PPh Pasal 29)

Contoh penerapan Stelsel Pajak Campuran di Indonesia adalah mekanisme PPh Pasal 25/29. Wajib Pajak menggunakan pajak terhutang tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menentukan besarnya angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan. Setelah tahun pajak berakhir, maka wajib pajak akan melaporkan penghasilannya selama setahun kedalam SPT Tahunan untuk menghitung PPh Pasal 29. Dalam menghitung jumlah pajak yang sesungguhnya di akhir tahun pajak (PPh Pasal 29) maka wajib pajak dapat mempertimbangkan kredit pajak PPh Pasal 25 yang telah dibayarkannya.

About adminsp

BACA JUGA

Cara Meminta Nomor Seri Faktur Pajak

Cara Meminta Nomor Seri Faktur Pajak

Bagaimana cara melakukan permintaan nomor seri faktur pajak (NSFP) ? Mungkin pertanyaan ini sering ditanyakan oleh wajib pajak …

tinggalkan komentar